My Circumcision

Preface, background story for this moment…

Tiga tahun sebelum aku dikhitan, bapakku meninggal karena sakit. Beberapa ingatan tentang bapakku masih sangat jelas di otakku tapi banyak sekali yang sudah pudar karena dimakan oleh waktu, salah satunya adalah obrolanku dengan bapakku yang membahas tentang khitananku [fragmented brain]. Satu hal yang samar-samar aku ingat, bapakku menyarankan untuk membeli skateboard menggunakan uang yang aku dapatkan pada waktu aku dikhitan. Alasan bapakku menyarankan seperti itu mungkin karena dulu bapakku sering melihat aku bermain skateboard milik tetangga depan rumah nenekku [digging an old archive]. Sebenarnya bukan obrolan tentang khitananku yang penting, yang penting itu keberadaan bapakku saat khitananku. Tapi kenyataannya bapakku sudah meninggal tiga tahun sebelum khitananku, jadi obrolanku dengan bapakku tentang khitananku menjadi sangat penting bagiku, meskipun ingatan tentang itu sudah pudar dimakan oleh waktu. Andai saja waktu bisa diulang kembali dan bapakku meninggal diketahui tanggalnya, mungkin khitananku dilaksanakan pada waktu aku dengan bapakku membahasnya [creating time machine].

Dua tahun sebelum aku dikhitan, ibuku memaksakan diri untuk pergi merantau ke negara sebelah [desperate mother]. Banyak sekali ingatan tentang ibuku yang juga sudah pudar dimakan waktu tapi ada beberapa yang masih sangat jelas di otakku, salah satunya adalah kronologi bagaimana ibukku memaksakan diri pergi merantau ke negara sebelah [the x-files]. Sampai hari ini aku tidak beruntung karena waktu terus berlalu tapi tidak juga memakan ingatanku tentang hal itu. Padahal pada waktu aku dikhitan, ibuku bersamaku mempersiapkan khitananku. Mungkin yang membuat ingatanku tidak pudar adalah aku yang menginginkan pada waktu khitananku, kepulangan ibuku itu untuk seterusnya, tapi kenyataannya kepulangan ibuku hanya sebulan lamanya dan ibuku kembali lagi merantau ke negara sebelah untuk waktu yang lebih lama lagi dari dua tahun yang telah berlalu [unclosed case].

[fragmented brain] Selama mempersiapkan khitananku, ibuku sering bercerita tentang pengalamannya selama dua tahun merantau di negara sebelah. Ibuku juga mendengarkan ceritaku tentang bagaimana aku menjalani hari-hariku selama dua tahun ditinggal ibuku merantau. Aku juga membahas ingatanku tentang obrolanku dulu dengan bapakku, bapakku yang menyarankan untuk beli skateboard, selain itu aku juga bercerita tentang keinginan-keinginanku, minatku dengan dunia science dan kegemaranku membaca berbagai buku ilmu pengetahuan, yang sebenarnya semua itu didukung dan disukai oleh ibuku, diantaranya adalah keinginanku memiliki sebuah sanctuary yang berisi segala jendela untuk mengakses segala resource ilmu pengetahuan [dengan keleluasaanku bukan kekuasaanmu]. Hebatnya ibuku, ditengah kesibukan mempersiapkan khitananku dan mendengarkan cerita-ceritaku, ibuku tidak lupa memberikan nasehat-nasehat untukku tentang masa-masa setelah aku dikhitan nanti, di mana aku harus siap memasuki masa remaja atau baliq. Masa remaja itu cabangnya kegilaan, dan perempuan adalah jaring-jaring setan [menurut yang aku pelajari dan aku sepakat dengan hal itu].

[digging an old archive] Hari pertama, yaitu sehari sebelum anuku dipotong, pada malam hari, teman sekolahku [SDN Barata Jaya 2 No. 203 Surabaya] yang bernama Kurniawan dan Aris Hari Martono datang ke rumah. Tujuan mereka datang adalah ingin menemaniku menepis segala ketakutan tentang mitos dan horor-nya ketika dikhitan [sebenarnya aku biasa saja waktu itu, aku tidak terpengaruh mitos dan cerita horor]. Mulai dari saling berbagi cerita dan bercanda, sampai melakukan berbagai aktifitas konyol yang sebenarnya cukup wajar dilakukan oleh anak-anak seusia kami. Lalu lepas dari semua cerita mitos dan horor-nya dikhitan, ketika kedua temanku mau pamit pulang, salah satu temanku memutuskan untuk menemani aku di hari kedua ketika aku dikhitan, dia akan datang shubuh, sebelum aku berangkat ke TKP pemotongan anuku.

Hari kedua, setelah sholat shubuh selesai dilakukan, temanku Aris Hari Martono sudah datang. Tidak lama kemudian, kakekku, pamanku dan saudara lainnya mengajak berangkat menuju TKP pemotongan anuku, tentunya aku ditemani oleh Aris Hari Martono. TKP pemotongan anuku adalah sebuah rumah seorang dokter yang memiliki ruang praktek untuk khitan. Dari berbagai obrolan yang aku dengar selama berangkat, cukup banyak anak-anak dikampungku [kampung di mana rumah nenekku berada] yang dikhitan oleh dokter khitanku ini [aku lupa namanya]. Jadi, aku dan dokter khitanku ini masih satu kampung. Informasi ini bisa menjawab kenapa aku berangkat khitan cukup dengan naik becak, bukan naik mobil, taksi atau ambulance [ehehehehe…].

Setelah aku memasuki ruang praktek dokter khitanku, aku langsung disuruh berbaring di atas tempat tidur. Kemudian aku diminta untuk membuka sarung yang aku kenakan. Hal pertama yang dilakukan dokter khitanku adalah memberikan suntikan obat bius di anuku yang memberikan efek mati rasa di anuku. Tujuannya agar aku tidak merasakan sakit ketika anuku dipotong dan dijahit. Hal berikutnya yang dilakukan dokter khitanku adalah memotong sedikit bagian dari anuku lalu dijahit sehingga fungsi anuku menjadi lebih sehat dan tentunya penampilan anuku jauh lebih menarik [lebih menggemaskan dan sangat menggugah selera]. Hal terakhir yang dilakukan oleh dokter khitanku, setelah anuku sudah selesai dimodifikasi, adalah membungkus anuku agar luka bekas potongan dan jahitan di anuku lekas sembuh. Dokter khitanku tidak lupa juga memberikan resep obat untuk membantu mempercepat penyembuhan luka di anuku. Selama semua proses aku dikhitan, aku ditemani oleh kakek, paman, saudara dan temanku [sebuah dukungan berkualitas meskipun berbatas].

Setelah semua proses aku dikhitan selesai, aku diperbolehkan untuk pulang [dengan tetap] naik becak. Pengalaman yang aku rasakan saat itu adalah suasananya yang sangat meriah, sangat menyenangkan hati, meskipun bukan becak hias yang aku naiki [jaman dulu ketika seorang anak dikhitan, kendaraan yang digunakan untuk mengantar biasanya adalah becak yang telah dihias dengan berbagai kertas warna-warni]. Mungkin suasana meriah dan hati senang ini adalah akibat dari semua proses khitanku yang sudah berjalan dengan lancar dan ketika sudah sembuh, anuku jadi lebih istimewa [lebih menggemaskan dan sangat menggugah selera].

Hari ketiga adalah ketika aku mengundang teman-teman sekolahku [SDN Barata Jaya 2 No. 203 Surabaya]. Diantara mereka adalah Agustin SupriyantiMirza Indah Syafarani, Deddy Karana, Pedro, Eko Prasetyo, Dimasarian, Moch. Ramdhani, Kurniawan, Aris Hari Martono, Catur dan teman-teman sekolah lainnya [maaf kalau ada yang namanya salah tulis atau tidak disebutkan]. Bisa dibilang di sini ada pesta, pesta kecil-kecilan, silahkan datang tanpa dijemput dan pulang tanpa diantar [ehehehee…].

Meriahnya pesta [apapun pestanya, jadi lebih lengkap ketika ada dokumentasinya, waktu itu dokumentasi foto sudah cukup istimewa, tanpa perlu didokumentasikan dengan video karena video masih menjadi barang mahal waktu itu. Dari bergaya santai, resmi, ceria, bercanda sampai tingkah konyol teman-temanku sekolah, semua didokumentasikan dengan sebuah kamera foto milik ibuku [kalau tidak salah disebutnya dengan nama tustel]. Beberapa hari setelah itu, foto dokumentasi khitanku dicuci dan dicetak. Dengan melihat dokumentasi foto yang sudah dicuci dan dicetak, ketidak hebatanku terbukti, aku sangat mudah dialihkan sehingga melupakan keberadaan ibuku, hampir semua dokumentasi foto khitananku yang sudah dicuci dan dicetak, tidak ada fotoku bersama ibuku [dangerously fuckmily and friendshit not the reason – good people said], that’s it.

[creating time machine] Talk and talk about the future and the past with my mother, malam demi malam hingga ibuku kembali ke negara sebelah [preserved and protected].

[desperate mother] Beberapa cerita tentang apa yang terjadi pada ibuku selama dua tahun bekerja di negara sebelah, make me cry silently [preserved and protected].

[the x-files] Hingga hari ini, kenapa oh kenapa masih saja menjadi beberapa pertanyaan sejak dua tahun sebelum khitananku, yaitu ketika ibuku memutuskan untuk pergi merantau ke negara sebelah [preserved and protected].

[unclosed case] Lately, I’m knowing the reality of the fuckmily and the friendshit in this my NeverAvailable Life [preserved and protected].

BTW, terima kasih sudah mengunjungi website-ku! Ini bukanlah posting-an pertamaku. Aku tidak tahu ini posting-an yang ke berapa. Posting-an dengan tanggal lebih awal bukan berarti aku posting-nya sesuai dengan tanggalnya karena aku posting bisa kapan saja. Tanggal di posting-an itu sebagai penanda kapan sesuatu yang ada dalam posting-an itu terjadi. Terjadi di sini maksudnya bisa benar-benar terjadi di dunia nyata, bisa juga hanya terjadi di dalam pikiranku saja. Mohon maaf kalau cerita-cerita fiksi ini memiliki kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, semua itu memang aku sengaja, toh ini hanyalah cerita-cerita fiksi belaka.

Biasanya aku menulis cerita hanya di buku catatanku yang penuh dengan coretan kata-kata dan cerita-cerita fiksi. Menurut beberapa temanku, buku catatanku adalah jurnal hidupku. Jurnal yang membuatku sedikit marah kalau ada yang membaca isinya tanpa setahuku. Ini sangat berbeda dengan website-ku, aku mempersilahkan siapa saja untuk membaca isi website-ku ini tanpa perlu memberitahuku. Kalau ada yang membaca isi website-ku tanpa setahuku, itu akan membuatku sedikit senang [kecuali yang private atau aku protect].

Selamat membaca dan aku harap jangan berhenti hanya di satu tulisanku, silahkan jelajahi semua isi website-ku, itu akan membuatku sangat senang [kalau tidak, itu tidak akan membuatku sangat marah, hahaha].

 

(Visited 240 times, 1 visits today)

Write Your Comment