Junior High School [SLTP Negeri 1 Perak]

Tulisan ini berisi cerita tentang pemalas [tapi cukup senang untuk berpikir dan bepergian] yang sedang melanjutkan sekolah menengah pertama atau junior high school selama tiga tahun di sebuah kabupaten yang beriman [mungkin yang dimaksud warganya yang beriman, bukan kabupatennya].

Sekolah Menengah Pertama [SMP] atau Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama [SLTP] adalah sekolah lanjutan setelah lulus Sekolah Dasar [SD]. Waktu itu pendidikan dasar masih diwajibkan sampai sembilan tahun, yaitu enam tahun SD ditambah tiga tahun SMP. Aku bersyukur pada akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan dasar sampai lulus SMP, bahkan nantinya aku juga bisa melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan sampai perguruan tinggi [update 2006].

Sekitar tahun 1996, aku lulus dari SD Negeri Barata Jaya II No. 203 di kota Surabaya dan melanjutkan ke SLTP Negeri 1 Perak [nama sebuah kecamatan, bukan nama sekolah] di kabupaten Jombang. Tentunya aku pindah domisili, dari rumah nenekku [nenekku itu ibunya bapakku] di Surabaya aku pindah ke rumah pamanku [pamanku itu suami dari kakak ipar bibiku, bibiku itu kakak perempuannya bapakku] di Jombang agar aku tidak setiap hari berangkat sekolah dari Surabaya ke Jombang lalu pulang sekolah dari Jombang ke Surabaya [mending buka jasa travel kalau seperti itu, upsss].

Sebenarnya tujuan utama aku pindah ke rumah pamanku di Jombang itu bukan karena urusan melanjutkan sekolah saja, tapi urusan utamanya adalah belajar ilmu agama di sebuah pondok pesantren di desa Gading Mangu, kecamatan Perak dengan tidak mengesampingkan urusan sekolahku. Aku ini banyak inginnya, ingin paham ilmu agama dan juga ingin paham ilmu dunia. Menurutku hal ini sangat didukung oleh suaminya bibiku [suaminya bibiku itu adik ipar pamanku yang di Jombang]. Beliau pernah berkata padaku seperti ini, “Kalau di sekolah berprestasi jangan meninggalkan sekolah hanya karena ingin belajar ilmu agama di pondok pesantren [bagian pertama], kecuali kalau di sekolah tidak berprestasi atau sekolahnya berantakan, lebih baik dimasukkan ke pondok pesantren daripada terus sekolah [bagian kedua]”. Dari apa yang dikatakan beliau, menurutku bagian pertama adalah pernyataan yang mendukungku, aku tidak sampai meninggalkan sekolah karena ingin belajar ilmu agama di pondok pesantren. Tapi di bagian kedua, pernyataan beliau sangat tidak aku dukung karena aku sama sekali tidak setuju [tolong dipahami dan dimengerti untuk pendidikan anak yang lebih baik].

Kebetulan rumah pamanku berada di desa Gading Mangu dan nantinya pamanku di akhir tahun 1998 [mudah-mudahan tidak salah] dipilih dan diangkat menjadi kepala desa Gading Mangu. Jadi, [sebelum aku pindah ke rumah pamanku] sudah bisa dibayangkan seperti apa figur pamanku ini di desanya [apalagi mengetahuinya setelah aku tinggal di rumah pamanku selama tiga tahun]. Selain itu, letak rumah pamanku di desa Gading Mangu ini juga strategis, dekat dengan pondok pesantren tempat untuk belajar ilmu agama dan masih satu kecamatan dengan salah satu SMP negeri terbaik di kabupaten Jombang, yaitu SLTP Negeri 1 Perak. Untuk bisa mengikuti kegiatan pendidikan ilmu agama di pondok pesantren diharuskan untuk tinggal di dalam asrama dan harus bersekolah di sekolah swasta yang dikelola oleh pihak pondok pesantren karena jadwalnya sudah diintegrasikan dengan sangat ketat. Jika ingin mengikuti kegiatan pendidikan ilmu agama di pondok pesantren tapi ingin bersekolah di luar pondok pesantren atau sekolah di sekolah negeri, tidak diharuskan tinggal di asrama, tapi bisa dengan tinggal di kost-kostan yang disediakan oleh warga sekitar pondok pesantren. Pamanku sendiri kebetulan juga menyediakan kost-kostan di rumahnya. Kalau menggunakan pendekatan politik keluarga [bukan politik bernegara dan berbangsa], pamanku merupakan figur yang tepat bagiku untuk berkoalisi dan bernaung di rumahnya yang strategis demi mencapai tujuanku, yaitu belajar ilmu agama dan melanjutkan sekolah serta tetap berprestasi [silahkan berpikir dan jangan berpolitik dalam keluarga].

Pamanku memiliki empat orang anak laki-laki, tidak lebih dan tidak kurang. Anak ketiganya yang membantu mendaftarkan aku di SLTP Negeri 1 Perak. Hal ini aku ketahui dengan jelas pada hari pertama sekolah, setelah aku bertemu dan berkenalan dengan Harjuno Legowo Rohman, teman sekelasku yang rumahnya di desa Gading Mangu dan keluarganya kenal baik dengan keluarga pamanku, Harjuno bercerita tentang anak ketiga pamanku yang mendaftarkan aku di SLTP Negeri 1 Perak bersamaan dengan Harjuno mendaftarkan dirinya. Sebelumnya, aku dipertemukan dan dikenalkan ke Harjuno oleh Abdul Karim Al-Makkah. Karim ini teman yang kukenal karena secara kebetulan dia memilih duduk sebangku denganku ketika pertama kali masuk kelas. Karim rumahnya juga di desa Gading Mangu tapi berbeda dusun denganku [dalam satu desa ada beberapa dusun]. Kami bertiga, aku, Harjuno dan Karim sudah menjadi teman yang cukup akrab dalam sehari karena rumah kami di Gading Mangu dan kami bertiga sekelas, yaitu di kelas 1-C.

Di hari pertama dan hari-hari berikutnya bersekolah, banyak informasi yang diceritakan kepadaku oleh Harjuno dan Karim. Terutama tentang desa Gading Mangu dan siapa-siapa saja anak Gading Mangu yang sekolah di SLTP Negeri 1 Perak, salah satunya adalah kakak sepupuku [kakak sepupuku ini adalah anaknya pamanku yang ke empat] yang sekarang sudah kelas dua di SLTP Negeri 1 Perak. Selain hari itu adalah hari pertama aku sekolah di Jombang, aku juga warga baru di desa Gading Mangu, jadi mendengar banyak informasi tentang desa Gading Mangu sangat aku butuhkan sambil aku membangun kekuatan-kekuatan politik di sini [poli artinya banyak, tik itu bunyi hujan di atas genting, jadi politik itu artinya tik tik tik bunyi hujan di atas genting, mohon dikoreksi kalau keliru].

Di depan rumah pamanku ada sebuah SD yang dibelakangnya ada sebuah lapangan sepak bola tempat warga desa Gading Mangu biasa menghabiskan sore hari dengan berolahraga dan beraktifitas bersama. Teman-teman sekolahku yang rumahnya di desa Gading Mangu kebanyakan lulusan dari SD depan rumah pamanku dan hampir setiap sore mereka menghabiskan waktu dengan bermain dan berolahraga di lapangan yang ada dibelakang SD depan rumah pamanku. Duduk di atas pagar tembok yang membatasi halaman belakang SD dan lapangan sepak bola adalah hal yang aku suka, karenanya itu menjadi tempat favoritku, aku menjulukinya dengan sebuah julukan yang sangat unik dan keren sekali, yaitu “pagar tembok” [maaf kalau tidak menarik]. Selain bisa melihat semua aktifitas di lapangan sepak bola, di sini adalah sudut terbaik untuk melihat pemandangan cakrawala ketika matahari tenggelam dan bagi pecinta adrenaline, duduk di atas “pagar tembok” merupakan hal yang menantang karena tepat berada di belakang gawang sepak bola yang tidak dilengkapi dengan jaring pengaman, jadi duduk di atas “pagar tembok” sangat rawan terkena hantaman bola kalau ada bola yang ditendang dan berhasil menembus gawang [ini tantangan yang keren].

Waktu pertama kali aku duduk di atas “pagar tembok” yang menantang, aku bertemu dan berkenalan dengan Evan Sany Sofan. Evan adalah anak Gading Mangu yang rumahnya di belakang rumah pamanku. Evan juga sekolah di SLTP Negeri 1 Perak tapi dia tidak sekelas denganku, dia kelas 1-B. Sepulang sekolah dan di luar kegiatanku belajar ilmu agama di pondok pesantren, aku sering bermain bersama Evan di rumahnya. Bahkan kalau malam aku sering tidur di rumah Evan dan kami berdua sering iseng-iseng naik di atas atap rumahnya hanya untuk baring-baring santai menikmati suasana malam. Pernah suatu hari di halaman belakang rumah Evan, ketika itu sedang musim hujan, kami melihat sebuah pohon besar tumbang diterpa hujan angin. Seketika itu kami iseng-iseng memanjatnya dan memasang berbagai instalasi tali-temali hanya untuk menjadikannya sebagai wahana baru bagi kami bermain. Di tengah serunya menikmati wahana baru itu, kaki kananku yang sedang bertumpu pada sebuah dahan pohon terperosok karena dahan pohon tersebut patah, akibatnya pahaku mengalami sebuah luka gores yang cukup dalam dan panjang akibat patahan dahan pohon yang tajam. Sampai hari ini bekas luka itu masih ada dan menjadi sebuah cerita yang cukup mendalam dan panjang seperti ceritaku ini.

Hampir setiap hari selama tiga tahun aku bersekolah di SLTP 1 Perak, aku berangkat ke sekolah dengan menaiki sepeda. Kadang aku berangkat bersepeda sendirian tapi lebih sering berangkat bersepeda bersama teman-temanku yang rumahnya di desa Gading Mangu. Awalnya kami tidak sengaja bertemu di jalan menuju ke sekolah, lama-kelamaan hal itu menjadi kebiasaan dan terus saja kami jalani tanpa ada perdebatan dan perselisihan tentang mana yang baik dan mana yang benar diantara berbagai pilihan dan cobaan hidup di waktu berangkat sekolah [upsss… I did it again…].

Di tahun ke dua aku sekolah di SLTP Negeri 1 Perak, aku berada di kelas 2-C dengan teman sekelas yang masih sama formasinya seperti pada waktu aku berada di kelas 1-C. Sedangkan temanku yang bernama Evan berada di kelas 2-B. Di kelas 2-C ini bertambah lagi teman dekatku. Selain ada Harjuno dan Karim, ada Beni Tito Anggo yang rumahnya di dusun Sembung [aku lupa nama desanya] dan ada Agung yang rumahnya di dusun Ngemplak, desa Pagerwojo [satu dusun dengan sebuah tempat yang akan aku jadikan sebagai permanent sanctuary, update 2013]. Keduanya sama-sama masih di wilayah kecamatan Perak. Kami berenam ini, aku, Harjuno, Karim, Evan, Benni dan Agung, kalau pulang sekolah kadang pergi bermain bersama di rumah Beni dan di rumah Agung [code SP-354]. Pernah suatu hari kita bermain di rumah Beni karena ingin mandi di sungai yang dekat dengan rumahnya, yaitu sungai Sembung. Pernah juga kita bermain di rumah Agung karena kita ingin merasakan makan katak yang diternak oleh bapaknya Agung. Katak hidup yang ditangkap dari kolamnya lalu diolah dan langsung dimasak ketika masih segar, kemudian dimakan rame-rame, sensasi serunya menangkap katak, sensasi nikmat gurihnya makan katak, sampai hari ini masih menjadi cerita yang cukup sensasional seperti cerita-ceritaku yang tidak cukup sensasional dan selalu aku ceritakan dengan cukup tidak sensasional juga [maaf, jangan jadi sensi atau emosi baca tulisanku ini].

Masih di tahun ke dua aku sekolah di SLTP Negeri 1 Perak, sekolahku mengadakan kegiatan Study Tour ke kota kelahiranku, yaitu kota Surabaya. Study Tour ini diikuti oleh semua siswa kelas dua dan beberapa wali kelas sebagai pendamping untuk masing-masing kelas. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan kegiatan belajar di luar sekolah. Kami diajak menjelajahi pangkalan TNI angkatan laut di Surabaya, meneliti kapal perang milik TNI angkatan laut, mengunjungi museum dan planetarium, lalu kami juga diajak mengamati berbagai satwa di kebun binatang Surabaya dan selebihnya bersenang-senang bersama.

Ada kejadian kecil yang sangat aku sesalkan pada waktu Study Tour. Waktu itu kami sedang mengunjungi museum TNI angkatan laut, ketika kunjungan sudah selesai dan kami diharuskan kembali ke dalam bis yang akan membawa kami ke tujuan berikutnya, aku dan beberapa temanku masih sibuk mengambil foto di depan sebuah pesawat tempur yang ada di halaman samping museum. Pesawat tempur itu sudah tidak lagi difungsikan karena telah dijadikan semacam monumen. Saat itu aku sedang memegang buku jurnalku, yaitu buku yang aku gunakan sebagai tempatku menulis catatan dan menuangkan ide atau cerita-cerita yang ada dalam pikiranku. Karena aku ingin tanganku leluasa bergaya, secara sadar aku meletakkan buku jurnalku di atas sayap pesawat tempur tersebut. Setelah selesai mengambil foto, secara sadar aku baru mengetahui bahwa buku yang aku letakkan di atas sayap pesawat tempur tersebut sangat susah untuk diambil. Satu-satunya cara adalah dengan naik ke atas body pesawat tempur tersebut dari bagian ekor pesawat dan itu butuh waktu yang cukup lama kalau dilakukan. Sedangkan waktu itu aku sudah ditunggu oleh teman-temanku dan harus segera kembali ke dalam bis untuk melanjutkan kunjungan ke lokasi berikutnya. Karena aku takut tertinggal oleh rombongan, dengan sangat amat terpaksa sekali, akhirnya aku merelakan buku jurnalku dan meninggalkannya di atas sayap pesawat tempur itu. Sampai hari ini aku masih berharap tidak akan ada yang menemukan buku jurnalku itu. Tapi bagi siapa saja yang menemukan buku jurnalku itu, aku mengharapkan untuk dikembalikan padaku meskipun tidak ada imbalan yang aku sediakan atau aku janjikan.

SLTP Negeri 1 Perak, just a Junior High School. This some of my photos with my friends. They are; me, Harjuno a.k.a. Jun, Karim a.k.a. Rama, Evan and Beni.

 

Indonesia sedang mengalami krisis moneter dan baru saja terjadi reformasi [dalam rangka menyambut dan merayakan ulang tahunku yang ke lima belas] yang ditandai dengan lengsernya presiden Suharto kerena tuntutan demonstran dari seluruh Indonesia. Saat itu liburan kenaikan kelas di SLTP Negeri 1 Perak dan sejak saat itu aku memasuki tahun ketiga di SLTP Negeri 1 Perak. Di tahun ketiga aku berada di kelas 3-F dan teman sekelasku tidak lagi sama formasinya dengan tahun sebelumnya karena di tahun ketiga ini siswa dari kelas 3-A sampai 3-F, ditentukan secara acak. Tapi temanku Harjuno masih sekelas denganku di kelas 3-F. Dari mitos yang aku dengar dan ditambah dengan pendapatku sendiri, siswa masing-masing kelas tiga, dari kelas 3-A sampai kelas 3-F, sebenarnya tidak ditentukan secara acak, melainkan ditentukan berdasarkan kriteria-kriteria tertentu sehingga didapatkan kesimpulan bahwa kelas 3-A adalah kelasnya selebritis [siswa yang populer, cantik, tampan, keren, anak model, anak band, dsb.], lalu kelas 3-B adalah kelasnya kutu buku, [siswa yang pandai, berprestasi dalam hal pendidikan, juara kelas, dsb.], untuk kelas 3-C adalah kelasnya atlet [siswa yang berprestasi di bidang olahraga atau minimal menguasai salah satu jenis olahraga, dsb.], kalau kelas 3-D adalah kelasnya ambassador [siswa yang aktif di luar sekolah, sering dikirim mewakili sekolah untuk suatu kegiatan, dsb.], kelas 3-E adalah kelasnya aktifis [siswa yang aktif berorganisasi di sekolah, OSIS, PMR, anak Pramuka, dsb.], sedangkan kelasku 3-F adalah kelasnya siswa nakal [siswa yang bermasalah dengan pelajaran, sering tidak masuk sekolah, sering terlambat, sering berkelahi, dsb.]. Tentang mitos kelasku yang dikategorikan sebagai kelasnya siswa nakal juga diakui oleh wali kelasku sendiri. Tapi beliau sangat berharap, meskipun mitosnya siswa kelas 3-F adalah siswa nakal [sepertinya memang tidak benar seperti itu], setidak-tidaknya siswa kelas 3-F bisa jadi siswa yang pandai dan berprestasi dalam pelajaran. Harapan ini disampaikan beliau di hari pertama aku memasuki kelas 3-F di SLTP Negeri 1 Perak [hari terakhir tahun ketiga harapan itu terwujud dan melebihi dari yang diharapkan, update 1999].

Selama menjalani tahun ketiga sekolah di SLTP Negeri 1 Perak, aku berteman dekat dengan beberapa teman sekelas yang rumahnya tidak berada di desa Gading Mangu. Salah satu temanku adalah Purwoko. Dia adalah temanku yang setiap akhir minggu aku sering bermain ke rumahnya dan kadang aku bermalam di rumahnya. Purwoko jadi akrab denganku awalnya karena sebuah hal yang kurang baik yang kami lakukan bersama. Waktu itu Purwoko bercerita tentang suatu tempat di Jombang, dari informasi yang diketahui oleh Purwoko, di tempat itu memiliki beberapa home theater yang disewakan khusus untuk memutar film-film porno. Karena tidak semua orang tahu mengenai tempat itu, membuat Purwoko semakin penasaran dan ingin sekali mengunjunginya untuk bisa melihat film porno di sana. Ketika selesai mendengar cerita Purwoko tentang tempat itu, aku langsung saja menanggapinya. Secara kebetulan aku sudah mengetahui tempat yang dimaksud oleh Purwoko karena sebelumnya aku sudah beberapa kali ke tempat itu dan sudah tahu siapa pemiliknya [jangan berpikir buruk tentang aku, aku ini hanya ingin tahu tentang banyak hal untuk menambah pengetahuan]. Aku beritahukan kepada Purwoko bahwa aku mengetahui tempat yang dia maksud, tempat itu adalah sebuah salon [tempat orang potong rambut] yang lokasinya ada di belakang pasar Jombang. Kalau dia mau ke sana, aku bisa mengantar dan menunjukkannya, tapi aku meminta Purwoko untuk menanggung biayanya [karena informasi selalu berharga untuk dibayar, ini salah satu manfaat dari pengetahun, membuat lebih produktif dan menghasilkan]. Setelah sepakat, sepulang sekolah aku antar dia ke tempat itu, sejak saat itu Purwoko akrab denganku [dikemudian hari aku mendapatkan informasi bahwa Purwoko temanku ini telah meninggal dunia karena kecelakaan, update 2010].

Ada sebuah pengalaman berdarah-darah yang pernah aku alami di tahun ketiga sekolah di SLTP Negeri 1 Perak. Waktu itu aku dan tiga orang temanku berangkat ke sekolah dengan bersepeda. Di dusun Babatan, desa Kalang Semanding, kami dihadang beberapa anak dusun Babatan dan mereka mengeroyokku. Anehnya mereka tidak mengeroyok teman-temanku dan teman-temanku hanya diam saja karena terpukau [entah kagum atau takut atau kaget dan tidak bisa berkutik]. Hingga aku jatuh tersungkur di bawah sepeda temanku dan berkat bantuan temanku yang melerai pengeroyokan itu, anak kampung yang mengeroyokku akhirnya pergi begitu saja. Kemudian temanku langsung menolongku dan segera membawaku ke sekolah. Aku minta ke teman-temanku untuk tidak menceritakan kejadian ini di sekolah karena aku takut memicu kejadian yng lebih berdarah-darah [ingat bahwa aku ini seorang penakut]. Tapi salah satu temanku, yaitu temanku yang melerai pengeroyokanku, dia kebetulan sekelas denganku, dia tidak menuruti permintaanku, dia menceritakan hal itu ke teman-teman di kelasku. Purwoko yang mendengar cerita itu langsung menghampiriku dan menawarkan bantuan sebagai bentuk solidaritasnya. Tapi kepalaku yang sudah pusing karena memar dan lebab di wajah memaksaku untuk memejamkan mata dan tidak menghiraukan tawaran Purwoko. Sampai hari ini, apa yang kemudian dilakukan oleh Purwoko dalam bayanganku menjadi cerita yang lebih berdarah-darah dari apa yang aku alami diceritaku tadi.

Pada caturwulan ketiga di tahun ketiga aku sekolah di SLTP Negeri 1 Perak, kegiatan belajar mengajar di sekolah semakin padat. Di caturwulan ini semua siswa kelas tiga dihadapkan dengan serangkain ujian kelulusan. Ujian terakhir disebut dengan EBTANAS, yaitu kependekan dari Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional. Sebelum ujian EBTANAS dimulai, pihak sekolah memberikan tenggang waktu sebelum jadwal EBTANAS dimulai, tenggang waktu itu yang disebut sebagai minggu tenang EBTANAS. Di minggu tenang itu pihak sekolah memanfaatkannya untuk semua siswa kelas tiga dengan mengadakan liburan ke Yogyakarta. Menurutku ini terbalik karena setahuku, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, bersusah-susah dahulu bergembira kemudian, ujian dulu liburan kemudian. Sedangkan aku, selain tetap mengikuti kegiatan liburan sebelum menghadapi ujian EBTANAS, meskipun itu liburan dulu ujian kemudian, aku memanfaatkan minggu tenang dengan caraku sendiri untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian EBTANAS. Persiapanku selain belajar dan berdoa, aku juga meluruskan niat dan membulatkan tekad untuk percaya dengan kemampuanku, yaitu mengerjakan ujian EBTANAS sepenuhnya semampuku apapun hasilnya. Aku berpikir, lebih baik bangga hasil ujian bagus tapi dikerjakan sendiri daripada malu hasil ujian jelek tapi mencontoh jawaban teman [pemikiran yang super sekali].

Di penghujung tahun ketiga aku sekolah di SLTP Negeri 1 Perak, diselenggarakan kegiatan perpisahan untuk siswa kelas tiga yang sudah lulus dan akan melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas [SMA] atau Sekolah Lanjutan Tingkat Atas [SLTA] atau Sekolah Menengah Umum [SMU]. Kalau tahun-tahun sebelumnya kegiatan perpisahan diselenggarakan di luar sekolah dengan menyewa gedung balai desa Kalang Semanding, di penghujung tahun ketiga aku sekolah di SLTP Negeri 1 Perak, kegiatan perpisahan diselenggarakan di dalam sekolah memanfaatkan halaman tengah sekolah yang biasa digunakan sebagai lapangan upacara. Sebuah panggung didirikan di ujung barat halaman dan dari depan panggung sampai ke ujung timur halaman didirikan tenda dan disediakan kursi untuk semua siswa kelas tiga, wali murid, guru, tamu undangan dan beberapa tamu tidak diundang. Aku sendiri saat itu tidak menghadiri kegiatan perpisahan di SLTP Negeri 1 Perak. Pada hari kegiatan perpisahan itu diselenggarakan, aku menghabiskan waktuku sendirian di dalam kamarku, di rumah nenekku, di Surabaya [being alone doesn’t mean being lonely, a lonelyness is a prevention from being lonely – a not too severe “obsessive-compulsive” disorder]. Aku mengetahui dengan jelas bagaimana jalannya kegiatan perpisahan pada waktu itu berdasarkan apa yang diceritakan oleh teman-temanku, Harjuno, Karim, Evan, Benny, Agung, Purwoko dan temanku lainnya.

Di tengah kegiatan perpisahan pada waktu itu, ada sebuah acara pembagian penghargaan untuk sepuluh siswa kelas tiga dengan nilai EBTANAS tertinggi diantara semua siswa kelas tiga SLTP Negeri 1 Perak. Penghargaan ini merupakan salah satu wujud apresiasi pihak sekolah terhadap siswa-siswa kelas tiga yang sudah bekerja keras, giat belajar hingga akhirnya berprestasi. Ada moment unik dan menarik di acara pembagian penghargaan waktu itu. Ketika sepuluh siswa dipanggil ke atas panggung, semua yang hadir pada waktu itu akhirnya mengetahui secara sadar bahwa siswa dengan nilai tertinggi urutan kesatu sampai kesembilan adalah siswa dari kelas 3-B dan siswa dengan nilai tertinggi urutan kesepuluh adalah siswa dari kelas 3-F. Adanya satu siswa dari kelas 3-F yang masuk dalam deretan sepuluh siswa dengan nilai EBTANAS tertinggi waktu itu, membuat apa yang selama ini diharapkan oleh wali kelas 3-F jadi benar-benar terwujud. Menurut teman-temanku, wali kelas 3-F pada hari itu pasti bangga mulai hari itu mengakui bahwa kelas 3-F adalah kelasnya siswa nakal mutlak hanya mitos belaka, karena faktanya pada hari itu ada seorang siswa kelas 3-F yang pandai dan berprestasi serta terbukti telah menjadi salah satu siswa dalam deretan sepuluh siswa dengan nilai EBTANAS tertinggi waktu itu. Dalam bayanganku, hal itu secara singkat dan padat disampaikan oleh wali kelas 3-F setelah selesai menerima penghargaan [bayanganku selesai sampai disini], penghargaan yang seharusnya diterima oleh salah satu siswa kelas 3-F, pada hari itu harus diterima dengan diwakili oleh wali kelas 3-F karena siswa kelas 3-F tersebut tidak menghadiri kegiatan perpisahan pada hari itu, siswa itu lebih memilih tetap di dalam kamarnya [lalu siapa siswa itu? sudah pasti itu kamu!].

Terus terang sampai hari ini apa yang menjadi akhir tulisan di atas hanyalah sebuah kebanggaan, bukan sebuah kesombongan. Seperti aku tulis sebelumnya, aku berpikir bahwa lebih baik bangga hasil ujian bagus tapi dikerjakan sendiri daripada malu hasil ujian jelek tapi mencontoh jawaban teman [sudah #pahamkah?].

Ps, Mohon maaf kalau cerita-cerita fiksi ini memiliki kesamaan nama tokoh, tempat dan kejadian, semua itu memang aku sengaja, toh ini hanyalah cerita-cerita fiksi belaka.

 

 

(Visited 163 times, 1 visits today)

Write Your Comment