Journal Of Unloading All Inside My Sanctuary To Make Money

posted in: Fiction Stories | 4

Terima kasih sudah mengunjungi web blog-nya THE AFIETADI’S ini. Semoga kamu mau membaca tulisanku berikut ini sampai selesai dan pada akhirnya bisa memahami. Tulisanku kali ini bercerita tentang bagaimana aku membongkar, memilah, memilih, memperbaiki, mengolah dan menjual semua barang yang ada dalam tempat perlindunganku, atau biasa aku sebut sebagai sanctuary. Tujuannya hanya satu, yaitu untuk dijadikan uang, hehehe. Selama aku melakukan itu semua, aku juga menulis tulisan ini. Kalau semua yang aku lakukan itu dianggap sebagai sebuah project yang aku namakan “Unloading All Inside My Sanctuary To Make Money”, maka tulisan ini bisa disebut sebagai jurnal yang aku beri judul “Journal Of Unloading All Inside My Sanctuary To Make Money“. Okay, selamat membaca jurnalku dan selamat memahami project-ku, kwkwkwkwk!

Penimbun, itu benar bahwa aku ini seorang penimbun., tapi aku ini juga seorang pickers dan thrifters yang suka hunting dan thrifting sampai aku memiliki thrift shop atau thrift store di Surabaya, Indonesia yaitu tokoku, Mamak Store ENDHONESA. Setelah aku lulus kuliah sampai hari ini sudah banyak barang yang aku simpan dan aku timbun. Baik barang pribadiku, barang sisa importku dan barang hasil produksiku. Bagi kebanyakan orang yang mengetahuinya, semua barang itu sengaja aku simpan dan aku timbun tanpa ada alasan yang jelas. Tapi menurutku selalu ada alasan yang jelas kenapa aku simpan dan aku timbun barang itu. Alasan paling jelas karena barang itu memiliki sebuah cerita, atau mengingatkan pada sebuah cerita. Sebuah cerita yang menjadi kenangan, bahkan kenangan yang bisa membunuhmu kalau kenangan itu ada sangkut pautnya denganmu.

Selama ini, semua barang itu aku simpan dalam beberapa box plastik container dan aku timbun dalam sanctuary-ku. Tentunya dalam keadaan tertata rapi. Saat aku mulai menulis tulisan ini aku sudah membulatkan niat untuk membongkar dan akan aku keluarkan semua barang itu lalu aku letakkan di dalam tokoku untuk aku pilah dan pilih. Tujuannya hanya satu dan kalau memungkinkan, yaitu menjadikan semua barang itu menjadi uang. Rencanaku barang itu aku pilah dan pilih mana yang layak untuk langsung dijual (1), mana yang harus diperbaiki agar layak untuk dijual (2), yang terakhir, mana yang harus diolah diambil bahan bakunya saja atau didaur ulang menjadi barang baru yang layak untuk dijual (3). Dan resmilah aku disebut sebagai seorang pickers dan thrifters yang selalu melakukan hunting dan thrifting serta menjual barang hasil hunting dan thrifting-nya melalui thrift shop atau thrift store miliknya sendiri, ahahahaha!

Di hari pertama aku mewujudkan niatku, aku mulai mengeluarkan box plastic container dari sanctuary-ku dan memindahkan ke dalam tokoku. Jumlah box plastic container berisi barang yang harus aku bongkar ada;

  • 14 Box Large Ukuran (45x50x75)cm,
  • 3 Box Medium Ukuran (35x40x60)cm,
  • 4 Box Small Ukuran (30x35x50)cm, dan
  • 4 Box Smallest Ukuran (25x30x40)cm.

Semacam rongsokan yang menggunung kalau seandainya semua barang itu tidak tertata rapih dalam box plastic container. Dan begitu semua barang dalam box aku bongkar, aku keluarkan semua lalu aku letakkan di tokoku, niscaya jadinya akan menggunung bagai rongsokan. Itulah kesimpulan akhir di hari pertama dan untuk menyiasatinya aku menggunakan segala kemampuan thrifting yang aku miliki, yaitu di hari kedua aku mulai membongkar barangku secara bertahap, aku bongkar dan aku keluarkan hanya dari beberapa box saja, lalu aku pilah dan pilih, kemudian aku invetarisasi dan aku listing untuk dijual secara online (1). Sedangkan barang yang butuh diperbaiki (2) dan barang yang akan didaur ulang (3) aku sendirikan dulu. Setelah itu aku bongkar dan aku keluarkan barang lagi dari beberapa box lainnya di hari berikutnya, begitu seterusnya sampai tidak ada box yang tersisa. Semuanya yang jadi prioritasku adalah barang yang bisa langsung dijual agar tidak memakan tempat di tokoku.

Di hari kedua, thrifting is begin, aku mulai dengan membongkar dan mengeluarkan barang dari 3 box large dan 3 box medium. Di hari ketiga aku melanjutkan dengan membongkar dan mengeluarkan barang dari 4 box small dan 4 box smallest. Sedangkan box yang tersisa tinggal 11 box large ukuran (45x50x75)cm saja. Di hari keempat, aku mulai memilah dan memilih barang yang sudah aku keluarkan dari box lalu aku inventarisasi dan aku listing untuk dijual secara online. Dari hasil membongkar 3 box large dan 3 box medium, ada cukup banyak barang yang masih dalam kondisi baru, belum pernah dipakai, atau biasa disebut new old stock. Mulai dari barang untuk keperluan adventure atau outdoor activity, seperti tenda, sepatu, sleeping bag, jaket, gaiters, foot warmer, dan lain-lain, sampai barang berupa perlengkapan untuk longboard dan skateboard, seperti longboard precision truck, skateboard precision truck, longboard glove, longboard body protector, skateboard body protector, dan lain-lain. Hampir semuanya dalam kondisi new old stock.

Di hari kelima, thrifting continued, aku membongkar 4 box large dan masih tersisa 7 box large ukuran (45x50x75)cm saja. Di hari keenam aku mulai memilah dan memilih barang dari hasil membongkar 4 box large. Selanjutnya aku mulai inventarisasi semua barang dan aku listing satu per satu untuk dijual secara online. Dari hasil membongkar box di hari kelima, kebanyakan adalah barang dengan bahan tekstil dan kertas-kertas dokumen, mulai dari buku, proposal, dokumen fotocopy-an, surat-surat, brosur, undangan, hingga nota dan tanda terima. Cukup banyak barang dengan bahan tekstil yang harus didaur ulang, sisanya bisa aku listing untuk langsung dijual secara online. Sedangkan kertas-kertas dokumen, hanya buku saja yang bisa aku listing untuk langsung dijual secara online. Khusus untuk nota dan tanda terima tetap aku simpan dan aku tata rapih, ehehehe. Lalu kertas-kertas dokumen seperti proposal, dokumen fotocopy-an, surat-surat, brosur, undangan dan kertas dokumen lainnya aku manfaatkan untuk mengisi semua tas yang aku jual sehingga kelihatan berisi ketika aku display di tokoku, Mamak Store ENDHONESA.

Di hari ketujuh, thrifting still continued, aku membongkar 3 box large dan masih tersisa 4 box large ukuran (45x50x75)cm saja. Di hari kedelapan aku mulai memilah dan memilih barang yang sudah aku keluarkan dari box lalu aku inventarisasi dan aku listing untuk langsung dijual secara online. Barang dengan bahan tekstil dan kertas-kertas dokumen, terutama buku sangat banyak. Sisanya adalah barang elektronik dan pernak perniknya.

Di hari kesembilan, the last day of thrifting, aku membongkar 4 box large terakhir. Di hari kesepuluh aku memilah dan memilih barang yang terdiri dari barang dengan bahan tekstil, pakaian milik ibuku dan pakaian milik anakku yang sudah tidak terpakai. Sisanya adalah barang perabotan untuk di gunakan dalam rumah, seperti gelas, panci, baskom, blender, dan lain-lain yang masih dalam kondisi new old stock. Semua barang itu lalu aku inventarisasi dan aku listing satu per satu untuk dijual secara online.

Di hari kesebelas aku menata dengan rapi barang yang tetap aku simpan dan tidak aku jual. Barang yang aku simpan kebanyakan nota dan tanda terima, ehehehhe. Sisanya adalah barang yang selalu aku butuhkan untuk menjalani hidup dan barang yang nantinya akan aku jadikan hiasan dan dekorasi sanctuary-ku. Semua barang itu aku masukkan dalam 2 box large, 2 box medium dan 2 box small saja. Sisa box lainnya yang kosong aku gunakan sebagai tempat menyimpan stock barang jualan tokoku, Mamak Store ENDHONESA.

Berikut ini daftar semua barangku yang sudah aku pilah, aku pilih, aku inventarisasi dan aku listing sesuai dengan yang direncanakan:

  1. Sell As Is Stuff;
  2. Repair The Stuff And Sell It;
    Tidak ada barang yang masuk kategori ini karena barang yang rusak kebanyakan adalah barang elektronik yang bisa langsung aku listing untuk dijual secara online dengan cara menjadikannya dalam satu paket bersama barang elektronik lainnya yang masih berfungsi. Istilahnya kalau di marketplace online seperti eBay adalah “sell as lot”. Harapannya bisa menjadi keuntungan lebih bagi pembelinya karena dengan membeli satu paket berisi banyak barang harganya sangat jauh lebih murah dibandingkan beli secara terpisah, meskipun ada barang yang rusak dan timbul biaya karena harus memperbaiki.
  3. Recycle The Stuff And Sell It;
    Barang-barang yang harus diolah diambil bahan bakunya saja atau didaur ulang menjadi barang-barang baru yang layak untuk dijual, semuanya adalah barang-barang dengan bahan tekstil tapi kebanyakan adalah pakaian jadi yang sudah tidak layak pakai. Proses daur ulang barang-barang ini hingga proses menjualnya untuk menjadi uang akan menjadi project baru untukku dan tentunya akan aku tulis juga jurnalnya dengan judul, “Journal Of Recycling All My Unused Textile Stuff To Make Money“, semoga akan menjadi keseruan dan kebahagian untuk aku, syukur kalau juga menjadi keseruan dan kebahagiaan untuk kamu, iya kamu!

Akhirnya kamu sampai juga di akhir tulisanku ini. Terima kasih sudah membaca sampai di sini! Semua listing barang di atas bisa dilihat di ENDHONESA Online Marketplace. Silahkan langsung membelinya kalau kebetulan ada barang yang kamu butuhkan. Silahkan juga di-share ke teman-temanmu yang membutuhkan. Terus terang, aku akan sangat berterima kasih untuk itu semua karena kamu sudah membantu dan mendukung pedagang Indonesia seperti aku yang saat ini sedang mempertahankan kehidupan yang lebih baik untuk anakku dan ibuku. Thrifting for life!

Berbicara soal mempertahankan hidup, atau mempertahankan hidup yang lebih baik bagi keluarga, dalam hal ini anak dan orang tua, itulah alasan dibalik tujuanku menjadikan semua barang dalam sanctuary-ku menjadi uang. Hmmmm… uang!?! Karena uang selalu dibutuhkan oleh semua orang, kecenderungannya membuat semua orang lebih memilih memiliki uang daripada memiliki semua kebutuhannya, dalam hal ini yang bukan uang, yaitu makanan, pakaian, tempat tinggal, kesehatan, pendidikan dan hiburan. Sadar atau tidak, semua kebutuhan menjadi makanan uang, pakaian uang, tempat tinggal uang, kesehatan uang dan pendidikan uang, #pahamkah?!? That’s #MyBullshit! #MamakBullshit! is a #Bullshit!

NB; Cukup banyak barang yang sudah terlanjur terjual dulu secara online sebelum sempat aku menulisnya di sini. Terus terang aku menulis ini di sela-sela aku jualan secara online, sedangkan fokusku sejak akhir tahun 2017 adalah menjadi pedagang online atau online seller bukan menjadi penulis, ditambah lagi barang yang aku jual menjadi prioritasku agar tidak memakan tempat di tokoku. Harap maklum dan sekali lagi terima kasih banyak sudah membaca tulisanku sampai akhir! Silahkan dikomentari di bagian bawah ini!

 

(Visited 501 times, 1 visits today)

4 Responses

  1. Bisnis Thrifting Store Bisa Di Simulasikan – Simulasi Bisnis – Business Simulator

    […] Selama ini, semua barang itu aku simpan dalam beberapa box plastik container dan aku timbun dalam sanctuary-ku. Tentunya dalam keadaan tertata rapi. Saat aku mulai menulis tulisan ini aku sudah membulatkan niat untuk membongkar dan akan aku keluarkan semua barang itu lalu aku letakkan di dalam tokoku untuk aku pilah dan pilih. Tujuannya hanya satu dan kalau memungkinkan, yaitu menjadikan semua barang itu menjadi uang. Rencanaku barang itu aku pilah dan pilih mana yang layak untuk langsung dijual (1), mana yang harus diperbaiki agar layak untuk dijual (2), yang terakhir, mana yang harus diolah diambil bahan bakunya saja atau didaur ulang menjadi barang baru yang layak untuk dijual (3). Dan resmilah aku disebut sebagai seorang thrifter yang selalu melakukan thrifting dan menjual barang hasil thrifting-nya melalui thrift shop atau thrift store miliknya sendiri, ahahahaha! Salam Thrifting For Life! […]

  2. Thrifting Oh Thrifting… – usaha kecil menengah sejak 2016

    […] Semacam rongsokan yang menggunung kalau seandainya semua barang itu tidak tertata rapih dalam box plastic container. Dan begitu semua barang dalam box aku bongkar, aku keluarkan semua lalu aku letakkan di tokoku, niscaya jadinya akan menggunung bagai rongsokan. Itulah kesimpulan akhir di hari pertama dan untuk menyiasatinya aku menggunakan segala kemampuan thrifting yang aku miliki, yaitu di hari kedua aku mulai membongkar barangku secara bertahap, aku bongkar dan aku keluarkan hanya dari beberapa box saja, lalu aku pilah dan pilih, kemudian aku invetarisasi dan aku listing untuk dijual secara online (1). Sedangkan barang yang butuh diperbaiki (2) dan barang yang akan didaur ulang (3) aku sendirikan dulu. Setelah itu aku bongkar dan aku keluarkan barang lagi dari beberapa box lainnya di hari berikutnya, begitu seterusnya sampai tidak ada box yang tersisa. Semuanya yang jadi prioritasku adalah barang yang bisa langsung dijual agar tidak memakan tempat di tokoku. Cerita lengkapnya ada di Thrifting For Life. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.